Tiongkok Mengakhiri Perang Harga: Aturan Baru Menargetkan Penjualan Mobil Murah

23

Pemerintah Tiongkok mengambil tindakan tegas untuk menghentikan perang harga yang berkepanjangan di antara produsen mobil dalam negeri. Peraturan baru, yang diberlakukan oleh Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar, melarang perusahaan menjual kendaraan di bawah biaya produksinya, sebuah langkah yang dirancang untuk menstabilkan pasar dan melindungi produsen. Intervensi ini dilakukan ketika penjualan melambat tajam, dengan penurunan hampir 20% dibandingkan tahun lalu di bulan Januari.

Biaya Kompetisi

Selama tiga tahun, diskon besar-besaran telah mengikis keuntungan seluruh industri. Asosiasi Dealer Mobil China memperkirakan kerugian melebihi $68 miliar (471 miliar yuan) akibat perang harga. Dampak langsungnya sudah terlihat: penjualan anjlok 36% dari Desember hingga Januari, turun dari 2,2 juta menjadi 1,4 juta unit. Para analis memperkirakan kontraksi lebih lanjut pada permintaan domestik tahun ini, berpotensi turun hingga 3%.

Situasi ini bukan hanya tentang margin keuntungan. Ini tentang keberlanjutan industri. Siklus pembayaran pemasok yang diperpanjang, yang merupakan praktik umum di kalangan produsen mobil Tiongkok yang menimbun uang tunai untuk penelitian dan pengembangan, kini dibatasi. Pemerintah telah mendorong jangka waktu pembayaran untuk menyusut dari rata-rata 300 hari menjadi di bawah 60 hari, yang secara efektif menghilangkan alat utama untuk mendanai diskon yang agresif.

Ekspor Pertumbuhan sebagai Penyeimbang

Meskipun penjualan dalam negeri mungkin melemah, pabrikan Tiongkok beralih ke pasar ekspor. BYD, produsen kendaraan listrik terkemuka, berencana mengirimkan 1,3 juta kendaraan baterai-listrik dan hibrida plug-in ke luar negeri tahun ini, naik dari 1,05 juta pada tahun sebelumnya. Ekspansi ini menunjukkan perubahan strategi—persaingan harga di dalam negeri tidak berkelanjutan, sementara pasar luar negeri menawarkan potensi pertumbuhan.

Penegakan dan Resiko

Pemerintah telah memperingatkan “risiko hukum yang signifikan” bagi perusahaan yang menentang peraturan baru tersebut. Meskipun konsekuensi pastinya masih belum ditentukan, pesan yang ingin disampaikan jelas: kepatuhan tidak dapat dinegosiasikan. Pengamat industri, seperti Chen Jinzhu dari konsultan Shanghai Mingling Auto Service, yakin ancaman hukuman berat mendorong kepatuhan. Tanpa pembayaran yang tertunda kepada pemasok, produsen mobil tidak dapat mempertahankan diskon yang berkepanjangan.

Langkah-langkah baru ini merupakan sinyal jelas bahwa Beijing tidak akan membiarkan industri otomotif berlomba-lomba mencapai posisi terbawah. Tujuannya adalah untuk menstabilkan pasar, melindungi pemain domestik, dan memastikan pertumbuhan jangka panjang dibandingkan keuntungan jangka pendek melalui penetapan harga yang tidak berkelanjutan.

Intervensi pemerintah Tiongkok mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas: perang harga yang tidak terkendali dapat melemahkan seluruh sektor. Dengan menerapkan harga minimum, Beijing bertujuan untuk menjaga stabilitas produsen dan memastikan kelangsungan industri dalam menghadapi persaingan global.