Mengapa Angkutan Umum yang Lebih Baik, Bukan Sanksi Pengemudi, yang Menjadi Kunci Mengurangi Ketergantungan pada Mobil

16

Infrastruktur transportasi di Inggris telah lama menjadi sumber frustrasi, yang ditandai dengan memburuknya kondisi jalan dan terfragmentasinya jaringan angkutan umum. Laporan terbaru Departemen Perhubungan “Better Connected” berupaya mengatasi permasalahan sistemik ini, namun menghadapi tantangan mendasar: bagaimana mengalihkan masyarakat dari mobil tanpa membuat hidup lebih sulit bagi mereka yang bergantung pada mobil.

Konflik Inti: Kenyamanan vs. Kebijakan

Selama beberapa dekade, para pembuat kebijakan telah berupaya mengurangi penggunaan mobil untuk memerangi kemacetan dan dampak lingkungan. Namun, terdapat keterputusan yang signifikan antara tujuan pemerintah dan realitas kehidupan sehari-hari.

Meskipun laporan ini menguraikan berbagai strategi untuk meningkatkan jaringan, laporan ini sebagian besar mengabaikan alasan utama orang mengemudi: kenyamanan yang tak tertandingi. Bagi banyak orang, mobil memberikan tingkat fleksibilitas dan efisiensi waktu yang tidak dapat ditandingi oleh sistem transportasi umum saat ini—yang sering kali terkendala oleh ketidakandalan dan biaya tinggi.

Usulan Strategi dan Keterbatasannya

Laporan “Better Connected” menyarankan beberapa hal yang dapat mengubah perilaku komuter, termasuk:
Memprioritaskan bus pada jaringan jalan yang ada untuk meningkatkan kecepatan dan keandalan.
Mempromosikan inisiatif berbagi mobil dan berbagi lift untuk memaksimalkan okupansi kendaraan.
Memperluas skema park-and-ride untuk menjembatani kesenjangan antara kehidupan di pinggiran kota dan pusat perkotaan.
Meningkatkan pemeliharaan jalan untuk memastikan transit yang lebih lancar bagi semua pengguna.

Meskipun langkah-langkah ini masuk akal secara logis, namun ada kendala yang signifikan. Misalnya, penyebutan pemeliharaan jalan dalam laporan tersebut terasa hampa bagi banyak pengendara yang menghadapi krisis nasional akibat permukaan jalan yang rusak. Selain itu, saran agar dewan kota harus menjaga trotoar dan jalur sepeda dengan standar yang sama ketatnya dengan jalan-jalan utama mungkin lebih bersifat aspirasional daripada praktis.

Risiko Strategi “Dorong” vs. “Tarik”.

Dalam perencanaan kota, ada dua cara untuk mengubah perilaku: mendorong masyarakat menjauh dari satu moda transportasi (dengan menjadikannya lebih mahal atau sulit) atau menarik mereka ke moda transportasi lain (dengan menjadikan alternatif tersebut lebih menarik).

Ketegangan yang terjadi saat ini dalam kebijakan transportasi di Inggris menunjukkan adanya kecenderungan ke arah taktik “mendorong”—tindakan yang secara tidak sengaja dapat memberikan sanksi kepada pengemudi. Jika pemerintah berfokus untuk membuat perjalanan dengan mobil menjadi kurang nyaman tanpa terlebih dahulu memastikan bahwa angkutan umum merupakan alternatif yang unggul, lebih murah, dan lebih dapat diandalkan, maka dampaknya mungkin akan berupa kebencian masyarakat, bukan perubahan kebiasaan yang sesungguhnya.

Agar berhasil mengurangi ketergantungan pada mobil, tujuannya adalah membuat angkutan umum menjadi menarik sehingga masyarakat memilih untuk meninggalkan mobil mereka di rumah, daripada merasa terpaksa memilih alternatif yang kurang efisien.

Kesimpulan

Laporan “Better Connected” berisi benih-benih strategi transportasi yang fungsional, namun keberhasilannya bergantung sepenuhnya pada pelaksanaannya. Kemajuan sejati tidak akan dicapai dengan mempersulit berkendara, namun dengan melakukan investasi besar-besaran pada sistem transportasi umum yang menawarkan nilai, keandalan, dan keterjangkauan yang sesungguhnya.