Kenaikan harga bahan bakar yang pesat di Inggris mulai kehilangan momentum. Seiring dengan berlanjutnya gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah, harga minyak grosir telah turun, sehingga menawarkan potensi keringanan hukuman bagi pengendara. Namun, data terbaru mengungkapkan bahwa guncangan awal konflik memicu gelombang pembelian panik yang merugikan pengemudi Inggris hingga ratusan juta poundsterling.
Зміст
Perlambatan Kenaikan Harga
Angka terbaru dari Fuel Watch RAC menunjukkan bahwa laju kenaikan biaya sedang melambat. Antara Senin, 6 April dan Jumat, 10 April, harga bensin naik 1,9p dan solar sebesar 3,3p per liter. Hal ini menunjukkan perlambatan yang signifikan dibandingkan minggu sebelumnya, ketika harga melonjak masing-masing sebesar 3,9p dan 6,7p.
Pendorong utama di balik tren penurunan ini adalah stabilisasi pasar minyak global.
– Tren Minyak Mentah: Minyak mentah Brent telah jatuh kembali di bawah angka $100.
– Dampak Grosir: Ketika harga grosir turun, terdapat ekspektasi yang semakin besar bahwa harga pompa eceran pada akhirnya akan mengikuti penurunan tersebut.
Kekhawatiran “Roket dan Bulu”.
Meskipun melambatnya laju kenaikan harga merupakan pertanda positif, para ahli memperingatkan bahwa penurunan harga grosir tidak selalu berarti harga bahan bakar yang lebih murah di SPBU.
Otoritas Persaingan dan Pasar (CMA) memantau dengan cermat fenomena yang dikenal sebagai penetapan harga “roket dan bulu”. Hal ini terjadi ketika pengecer langsung bereaksi terhadap kenaikan harga grosir dengan menaikkan harga yang tinggi (“roket”), namun lebih lambat dalam menurunkan harga ketika harga turun (“bulu”).
“Meskipun kenaikan harga mungkin tidak bisa dihindari karena meningkatnya biaya grosir, kenaikan tersebut harus mencerminkan tekanan biaya yang sebenarnya,” Juliette Enser, Direktur Eksekutif Pasar di CMA memperingatkan.
Pengawasan peraturan ini sangat penting karena pada bulan Maret terjadi volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kenaikan harga bensin dan solar masing-masing sebesar 20p dan 40p per liter—kenaikan bulanan terbesar yang pernah tercatat.
Mahalnya Biaya Panic Buying
Selain dampak langsung kenaikan harga minyak, perilaku konsumen juga memainkan peran penting dalam volatilitas pasar saat ini. Data dari New Automotive menunjukkan bahwa ketakutan akan kelangkaan dan lonjakan harga menyebabkan lonjakan permintaan secara besar-besaran.
Temuan penting mengenai tren mengemudi terkini meliputi:
– Peningkatan Penjualan: Penjualan bensin 30% lebih tinggi dibandingkan tingkat biasanya selama puncak konflik.
– Diesel Spikes: Meskipun popularitas diesel secara umum menurun di Inggris, penjualan terlihat mengalami lonjakan di bagian depan.
– Dampak Finansial: RAC memperkirakan bahwa pengemudi menghabiskan tambahan £307 juta untuk bahan bakar karena kombinasi kenaikan biaya dan pembelian yang dipicu oleh kepanikan.
Ben Nelmes, CEO New Automotive, mencatat bahwa meskipun bulan Maret biasanya merupakan bulan dengan volume pengiriman mobil baru yang tinggi, tahun ini secara unik didorong oleh konsumen yang terburu-buru untuk “mengalahkan kenaikan” harga dan bereaksi terhadap rumor kekurangan bahan bakar yang belum terverifikasi.
Potret Pasar Saat Ini
Pada hari Jumat, 10 April, rata-rata harga bahan bakar di Inggris masih tetap tinggi:
– Bensin: 158,16p per liter
– Diesel: 191,31p per liter
– Brent Crude: Sekitar $95 per barel
Kesimpulan
Meskipun penurunan harga minyak grosir menawarkan harapan akan harga bahan bakar yang lebih stabil, dampak jangka panjang terhadap konsumen bergantung pada apakah pengecer meneruskan penghematan ini atau mempertahankan margin yang tinggi melalui pola harga yang “roket dan bagus”.






















